Hubungan di Mata Perempuan


Hubungan di mata perempuan

Tiga atau empat dekade lalu, para istri masih teguh memegang nilai bahwa istri adalah garwa, sigaraning nyawa (belahan jiwa) bagi suami, dan istri harus berbakti pada sang suami. Pada saat itu, apabila seorang perempuan memasuki kehidupan berumahtangga, berarti dia sudah mengikhlaskan dirinya untuk mengabdi pada suami dan keluarga. Ego bukanlah sesuatu yang harus dikedepankan. Bagi istri yang mampu menyikapi dengan baik dan mengikhlaskan apapun yang dilakukan suaminya, maka pernikahannya akan berakhir dalam kebahagiaan hingga akhir hayat. Sedangkan bagi istri yang yang belum mampu mengikhlaskan, biasanya akan tetap diam, dan memendam semua perlakuan suami tanpa menggugat. Itulah mengapa dahulu sangat jarang terjadi peristiwa perceraian. Dengan sikap istri yang mengalah ini, maka keluarga tersebut terhindar dari konflik terbuka sehingga meminimalisir trauma pada anak-anak.

Tidak terjadinya perceraian karena sikap mengalah istri, bukanlah hal yang sepenuhnya baik, karena emosi yang dipendam sang istri pasti sedikit banyak akan menimbulkan efek. Dan yang paling parah adalah efek yang ditimbulkan kepada orang yang memendam emosi itu sendiri, bisa menimbulkan gangguan secara fisik maupun psikis.

Bagaimanakah dengan jaman sekarang? Pada kasus-kasus  rumah tangga, laki-laki banyak dituding sebagai biang keladi masalah. Maraknya kasus perselingkuhan misalnya, membuat perempuan merasa benar saat melakukan gugatan perceraian.  Padahal menurut ajaran agama apapun, perceraian bukanlah hal yang disukai oleh Tuhan. Sang istri terkadang lupa, bahwa dia adalah seorang ibu. Dan buah hatinya juga merupakan anak dari sang suami. Bahwa dengan bercerai dia memaksakan kehendaknya untuk memisahkan anak-anaknya dari kasih sayang yang utuh.

Lantas bagaimanakah sebaiknya?

Kita runut kembali persoalannya. Dalam sebuah keluarga, adalah lazim bila terjadi perselisihan pendapat, gesekan ego dan bahkan pertengkaran. Akan menjadi masalah yang besar apabila satu pihak, misalnya suami melakukan suatu kesalahan, lalu sang istri mengetahuinya dan mereka tidak menyelesaikan dengan baik permasalahannya. Kecenderungan seorang perempuan adalah memendam masalah, diam namun dalam hati tidak terima. Ketika seseorang memendam masalah, apalagi dalam hati menolak atau tidak terima, maka secara otomatis sebenarnya dia sedang menyimpan memori itu dalam pikiran bawah sadarnya, dan apa yang tersimpan  akan selalu ada di sana selama orang tersebut tidak membuangnya. Yang perlu diketahui, saat pikiran bawah sadar terisi penolakan, rasa tidak terima, kemarahan apalagi dendam, maka pikiran bawah sadar juga memancarkan frekuensi negatif tersebut kepada siapapun yang ditemuinya. Bayangkan bila seorang suami di dalam rumah yang seharusnya nyaman bagi dia namun justru selalu menerima radiasi pikiran negatif dari sang istri, maka bisa ditebak ia pun akan semakin tidak betah berada di dalam rumah. Inilah yang belum banyak dipahami di masyarakat kita. Dimana saat satu pihak melakukan kesalahan, justru diberikan pikiran negatif terus menerus, yang mengakibatkan pihak tersebut semakin tidak nyaman dan membuat kesalahan-kesalahan selanjutnya, yang pasti ujung-ujungnya adalah perpisahan.

Yang perlu diketahui, saat pikiran bawah sadar terisi penolakan, rasa tidak terima, kemarahan apalagi dendam, maka pikiran bawah sadar juga memancarkan frekuensi negatif tersebut kepada siapapun yang ditemuinya.

Rina Khusnawati

Seandainya saja, ketika ada satu masalah terjadi segera diatasi dengan komunikasi yang baik. Salinng mempunyai kesadaran untuk saling memaafkan dengan tulus dan ikhlas, maka suatu masalah tidak akan berlarut-larut. Karena wajar jika manusia berbuat salah. Sang Istri tidak akan merasa menjadi “korban” namun justru mengambil peran sebagai partner yang memberikan kenyamanan, karena dia benar-benar memaafkan dan mampu memberikan radiasi cinta yang begitu besar. Maka kesalahan-kesalahan selanjutnya akan bisa dicegah. Dan keluargapun terselamatkan.

Metode SOUL Reflection membantu setiap individu untuk memahami proses hidup yang sedang dihadapi. Merefleksi diri ke dalam diri, mencari dan menemukan solusi terbaik dari setiap permasalahan. Lewat koreksi batin hingga mampu memberikan pemaafan dan meminta maaf secara batin. Menjaga pikiran bawah sadar tidak terkotori oleh hal-hal yang negatif dan mampu mengisi dengan pikiran positif, sehingga kualitas hidup pun akan menjadi lebih baik.

(Rina Khusnawati)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *